Etnosentrisme Konsumen : Respon Terhadap Produk Luar
Orang yang etnosentris, cenderung lebih suka menolak menggunakan produk luar negeri. Dengan berbagai alasan lebih memilih menggunakan produk dalam negeri. Sementara orang yang tidak atau kruang etnosentris, cenderung berpikir objektif dalam menggunakan/tidak menggunakan produk luar.
Tingkat etnosentris suatu wilayah atau Negara, berbeda satu sama lain, dan akan berubah sesuai dengan perubahan pola budaya atau pola pikir masyarakat.
Di jepang misalnya, ‘warna etnosentris’ masih sangat terasa. Kaum orang tua Jepang yang masih trauma dengan perang dunia, masih banyak yang enggan mengkonsumsi produk luar negeri, terutama produk Amerika dan Jerman. Bhakan ini meluas sampai ke penggunaan bahasa. Orang asing yang dating ke Jepang, seolah wajib menggunakan bahasa Jepang, dan bukannya bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Sementara kaum mudanya, seiring dengan perkembangan waktu, dan pergeseran pemahaman dan pola pikir, sudah tidak terlalu etnosentris terhadap produk Amerika. Walaupun kaummuda Jepang tidak menerima dengan mudah produk impor, sebagaimana dilakukan kaum muda di Negara lain.
Begitu pula dengan kondisi di Amerika Serikat. Penjualan mobil produk Jepang, hanya membidik kaum muda Amerika. Karena kenyataannya, kaum tua Amerika, masih sangat etnosentris, dan terkesan anti menggunakan produk Jepang. Beberapa pemikiran berbau kampanye anti produk asing terus dilancarkan. Di antaranya:
· Orang Amerka harus selalu membeli produk Amerika dan bukan produk impor
· Hanya produk yang tidak ada di Amerika yang boleh diimpor.
· Produk Amerika yang pertama, terakhir dan selamanya.
· Orang asing tidak boleh dibiarkan menjual produknya di Amerika. Kalaupun dizinkan ahrus dikenai pajak tinggi.
· Orang Amerika sejati ahrus selalu membeli produk Amerika
· Membeli produk impor berarti bukan orang Amerika.
Di Indonesia juga kampanye atau strategi pemasaran yang berlandaskan etnosentrisme sampai sekarang masih dilakukan. Saat ini kampanye cintai produksi dalam negeri masih terus diluncurkan, walaupun kenyataannya pelaksanaannya sulit. Karena toh kualitas produk dalam negeri untuk beberapa produk memang masih jauh di bawah standard. Sehingga meski kampanye terus berjalan, untuk produk-produk tertentu masih dikuasi produk impor.



