PRILAKU KONSUMEN DAN ETIKA PEMASARAN
Sampai saat ini, pengertian dan penerapan etika secara umum dalam berbagai konteks masih belum ada. Artinya, meski bersifat absolute, pada pelaksanaannya, ukuran kebenaran penerapan etika masih berbeda-beda, sesuai dengan pandangan atau prinsip yang dianut.
Sampai saat ini paling tidak pemahaman mengenai etika diwarnai perbedaan prinsip dari tiga kelompok teori, yakni teleology, utilitarianisme, dan deontologi.
|
|
TELEOLOGY |
UTILITARIANISME |
DEONTOLOGI |
|
ORIENTASI |
Tujuan |
Tujuan |
Tujuan dan metode |
|
PRINSIP |
Kebaikan untuk semua orang |
Kebaikan orang banyak |
Kebaikan maksimal dengan cara yang baik pula |
Seperti yang disampaikan Leon Schiffman & Leslie Lazar Kanuk dalam Consumer Behaviour, Etika jelas merupakan jalan dua arah. Agar proses pemasaran bekerja secara bermanfaat bagi seluruh masyarakat, para pelaku pasar dan konsumen sama-sama harus mengerti dan mempraktikan prilaku yang etis.
Dalam penerapannya di masyarakat, sering pula terjadi kerancuan pemahaman etika dan etiket. Padahal jelas keduanya berbeda.
|
NO |
ETIKET |
ETIKA |
|
1 |
Sopan santun |
Moral |
|
2 |
Cara yang tepat melakukan sesuatu |
Cara dan norma suatu perbuatan boleh dilakukan atau tidak |
|
3 |
Hanya berlaku dalam pergaulan dan ada orang di sekitar |
Berlaku walaupun tidak ada orang di sekitar kita |
|
4 |
Relatif |
Absolut |
|
5 |
Memandang manusia lahiriah saja |
Menyangkut manusia dari aspe “dalam” |
Kaitannya dengan aktivitas pemasaran, tidak dapat dipungkiri banyak sekali praktek pemasaran yang secara etika bertentangan. Di sisi lain. Tidak sedikit pula konsumen yang melakukan pelanggaran etika.
Kenyataan itu pula yang mengembangkan pemahaman, studi dan penarapan etika pemasaran saat ini. Lantas apa kaitan Etika Pemasaran dan Konsep Pemasaran?
Jelas, Konsep pemasaran yang harus diterapkan adalah Konsep Pemasaran yang beretika, yang memperhatikan kepentingan masyarakat umum secara keseluruhan.
Namun tidak dapat dipungkiri pula, banyak pemasar yang tidak mengacu pada konsep pemasaran seperti ini. Karena realitanya, dilihat dari segi pendapatan profit, konsep pemasaran dengan selalu memperhatikan kepentingan masyarakat, adalah program jangka panjang. “Keuntungan” diraih melalui proses waktu lama. Sementara dalam konsep bisnis, orang cenderung berprinsip, time is money.
Perusahaan kosmetik misalnya, tidak akan memproduksi kosmetik pemutih dosis tinggi berbahaya meski banyak “konsumen” yang keranjingan memutihkan kulitnya instanly. Dia akan konstan memproduksi produk aman meski secara financial tidak dapat meraih keuntungan cepat, dengan catatan, image dia sebagai produsen berkualitas akan terjaga, sehingga diharapkan loyalitas konsumen akan langgeng. Tetapi jika orientasinya mencari untung cepat, perusahaan ini tidak akan ambil pusing dengan bahaya yang terjadi pada masyarakat. Yang penting keuntungan cepat diraih.


